Pestorganik 4 fungsi

Gunakan Pestisida Secara Bijak dan Benar

EKOSISTEM ALAM

Pestisida organik masih dianggap benda langka oleh masyarakat umum ekonomi modern, yang seharusnya ini sudah ada dan telah dilakukan oleh para petani tradisional sejak jaman dulu, tetapi justru telah dilupakan oleh masyrakat moedrn.

 

Karena masuknya pemikiran kapitalis dan pejabat-pejabat korup yang menginginkan kekayaan sesaat serta membiasakan budaya serba instan tentu berpengaruh langsung terhadap pola pertanian di Indonesia. Diawal dari murahnya pupuk kimia karena subsidi di zaman pemerintahan Suharto yang ingin mempercepat swasembada pangan, mengakibatkan ketimpangan ekosistem alam pertanian yang dibiarkan bertahun-tahun oleh Pemerintah dan tanpa sadar hal ini terus dilanjutkan oleh pemerintah berikutnya sampai dengan sekarang, karena nikmatnya komisi yang diperoleh oleh para pejabat di dinas yang terkait berikut dengan partai-partai berslogan membela rakyat.

 

Ketimpangan ekosistem ini menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit tanaman baru dan hama dari serangga yang resistan terhadap pestisida kimia, ditambah kurangnya bimbingan PPL dari dinas pertanian terkait yang justru semakin memperparah pertanian di Indonesia.

siklus makanan

Alam Indonesia sebenarnya sudah memberikan yang terbaik terhadap pertanian kita, ular sawah, musang, biawak dan burung elang adalah pemangsa tikus nomor satu yang justru mulai punah diburu oleh petani sendiri karena memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi, akibatnya tikus berkembang biak pesat dan memiliki daya perusak yang tinggi.

Pada akhirnya para petani terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk membasmi tikus dengan cara-cara yang berbahaya bagi lingkungan dan diri sendiri seperti menggunakan racun tikus dan jebakan listrik.

 

Burung belibis, bango dan aneka burung-burung liar, kodok sawah, trenggiling, landak adalah sebagian didalam ekosistem penyeimbang alam karena mereka pemakan serangga nomor satu yang jumlahnya semakin sedikit dan hampir punah akibat diburu oleh masyarakat dan petani sendiri karena alasan yang sama yaitu memiliki nilai ekonomis tinggi.

 

Akibat ketimpangan ekosistem di pertanian, sekarang sering terdengar banyak sawah di Jawa bagian pesisir hancur terkena hama wereng, kebun palawija di Lampung hancur karena terserang jutaan belalang akibat burung-burung seperti belibis, kutilang, jalak hampir punah karena ditangkapi oelh masyarakat sekitar untuk dijual, dan lain-lain musibah hama yang seharusnya tidak perlu terjadi.

 

PESTISIDA DAN RESIDU KIMIA BERBAHAYA

Kemudian diperparah dengan masuknya produk-produk pestisida kimia dari luar negeri dengan mudah berkerjasama dengan PPL setempat yang katanya membantu petani untuk membasmi hama. Pestisida kimia memang diperlukan untuk membasmi hama tertentu sedangkan para petani tanpa arahan dan bimbingan PPL akhirnya karena panik menggunakannya secara sembarangan dengan dosis yang berlebih akibatnya justru fatal, beberapa jenis hama justru menjadi kebal terhadap pestisida tertentu. Hal tersebut semakin menguntungkan produsen pestisida kimia dengan menjual dalam kemasan berbeda dan peruntukan berbeda dengan harga yang bervariasi. rantai makanan

 

Residu dari pestisida dan pupuk kimia yang berlebih karena tidak terserap tanaman masuk dan tersimpan di dalam tanah dalam pemakaian jangka panjang berakibat hancurnya ekosistem didalam tanah sebagai matarantai makanan pertama.

 

Diperlukan waktu yang lama untuk menghilangkan dan mengurangi residu kimia didalam tanah, apalagi tanah diekploitasi habis-habisan tanpa jeda sedikitpun demi mengejar pola tanam yang berkesinambungan.

Untuk itulah sebaiknya kembali menggunakan pupuk-pupuk berbahan dasar organik sebaiknya pula menggunakan pupuk yang mengandung bakteri aktif mengurai kandungan tanah sehingga residu pupuk dan pestisida kimia diurai kembali menjadi zat-zat yang berguna untuk tanaman.

 

PESTISIDA ORGANIK

Mulailah membiasakan diri menggunakan pestisida berbahan dasar organik untuk mengurangi dampak lingkungan, seperti mengusir hama serangga menggunakan campuran bawang putih dan cabe, ditambah perekat tanaman kemudian disemprotkan ke tanaman.

 

Saat ini ada produk lengkap pestisida, pupuk cair dan perekat berbahan organik dikemas dalam satuan botol 100ml dan 250 ml menggunakan merk PESTNEEM. Pestisida ini berbahan dasar dari tanaman Nimba  (Azadirachta indica), tanaman ini berasal dari India masuk ke Indonesia sejak zaman penjajahan belanda. Semula ditanam didaerah perkebunan diduga bertujuan untuk mengurangi serangga hama. Sebagai pohon dengan tajuk membulat dan melebar sampai mencapai tinggi lebih dari 5 meter dapat memberi naungan yang teduh dibawahnya, nimba banyak ditanam ditepi jalan-jalan kota maupun pantai yang panas kering di daerah jawa.

 

Pestisida ini tidak membunuh secara langsung hama serangga tetapi pada tahap berikutnya mampu mengendalikan hama dengan cara :

  1. Menolak serangga makan.
  2. Memblokir proses ganti kulit.
  3. Menghambat perkembangan telur, larva ataupun pupa.
  4. Menggaggu proses komunikasi kawin.
  5. Mencegah betina meletakan telur.
  6. Membuat serangga mandul.
  7. Meracuni larva dan dewasa. Pestneem

 

Dengan penyemprotan secara rutin maka hama serangga yang ada pada tanaman berangsur-angsur akan berkurang, selain itu PESTNEEM juga telah dilengkapi dengan perekat dan penyubur tanaman. Mampu mengendalikan 123 jenis serangga, tidak berdampak apa-apa terhadap manusia serta ternak bila termakan.  Mudah ter urai sehingga tidak menimbulkan resistensi terhadap serangga.

 

Bila tetap ingin menggunakan pestisida kimia karena sudah sulit terkendali, sebaiknya gunakanlah pestisida secara bijak dan kenalilah serangga atau hama yang saat itu sedang menyerang tanaman anda, sehingga penumpasan lebih effektif.

 

 

________________________________________________________________________________________________________